Selasa, 30 Desember 2008

Investasi Telekomunikasi Memicu Pertumbuhan Ekonomi Daerah


Ketika industri telekomunikasi berbasis seluler tumbuh luar biasa dan Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat prospektif untuk dikembangkan dan diperluas ke pelosok daerah karena pengguna telepon seluler sekarang ini di Indonesia baru mencapai 30 % dari total penduduk Indonesia. Jadi, Indonesia merupakan pasar yang prospek untuk pengembangan ke arah pasar komunikasi seluler. Kalau begitu, pertanyaan gugatan selanjutnya adalah bagaimana peran industri seluler ini bagi pembangunan negara? Bahkan yang lebih spesifik lagi adalah bagaimana kontribusi industri seluler dalam percepatan pembangunan daerah tertinggal di negeri ini? Pertanyaan gugatan ini perlu dimunculkan karena jangan sampai revolusi luar biasa dari industri seluler yang memberi banyak kemudahan bagi manusia hanya dinikmati oleh orang-orang perkotaan ataupun wilayah-wilayah lain yang lebih maju perekonomiannya.
Sebagai gambaran, sampai awal Oktober 2007 ini di negeri tercinta 63 % dari total wilayah Indonesia masih tergolong daerah tertinggal atau bila memakai terminologi pemerintahan, masih tersisa 199 kabupaten yang masuk wilayah tertinggal. Dari sisa 199 kabupaten tertinggal tersebut, 28 kabupaten sudah naik statusnya menjadi ’maju.’ Namun pada sisi lain, justru 9 kabupaten merosot statusnya menjadi daerah tertinggal. Jadi, total daerah tertinggal adalah 180 kabupaten. Sebuah angka yang teramat tinggi untuk Indonesia yang dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, namun pada kenyataannya penduduknya masih banyak berada dibawah garis kemiskinan. Sungguh sangat ironis.
Daerah tertinggal yang jikalau di peta diwarnai merah dan akhirnya menjadi mayoritas pada warna peta itu, wajib untuk segera dientaskan. Tidak mudah memang mengubah dari daerah tertinggal menjadi daerah maju, diperlukan banyak pendekatan. Namun, tak ayal lagi pendekatan pertama adalah kecakapan Sang Pemimpin (Bupati dan Gubernur) dalam mengelola wilayahnya. Sang Pemimpin ini yang akan menjadi lokomotif membawa gerbong daerahnya menuju daerah yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, dan meminjam istilahnya Romo Mangunwijaya yaitu semakin memanusiakan manusia penduduknya.
Tak dapat disangkal kecakapan Sang Pemimpin dalam mengelola wilayahnya perlu infrastruktur maupun suprastruktur yang memadai sehingga lokomotif tersebut bergerak maju membawa gerbong-gerbong kesejahteraan yang dicita-citaka rakyatnya ketika memilih pemimimpin itu. Ada tiga infrastruktur yang harus dibangun supaya dapat memajukan daerah tersebut lebih maju dan kalaupun infrastuktur ini tidak dibangun maka perkembanagn perekonomian daerah itu akan tersedat. Karena infrastuktur ini merupakan faktor kuat penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Ketiga infrastuktur itu adalah jalan raya, pelabuhan (bandara) dan teknologi komunikasi ini wajib untuk dibangun. Infrastruktur yang lain bisa menyusul belakangan karena keberadaannya hanya sebagai penunjang dari sebuah pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sesuatu yang krusial dibutuhkan oleh suatu daerah yang berkembang seperti taman kota, tempat hiburan, rumah sakit, fasilitas akademik seperti kampus dan sekolah, dan lain-lain.
Membangun infrastruktur bernama jalan raya dan pelabuhan (bandara) butuh investasi besar dan jangka waktu lama. Hal demikian berbanding terbalik dengan infrastruktur bernama teknologi komunikasi yang relatif jauh lebih murah dan jangka waktu yang pendek. Terlebih lagi teknologi komunikasi berbasis seluler. ’Cukup’ dengan membangun BTS dan teknologi pendukung lainnya, telepon seluler sudah dapat beroperasi pada wilayah tersebut. Apalagi dukungan kemajuan teknologi seluler yang berlari kencang. Tidak terlalu mahal bila pemerintah daerah tertinggal bersangkutan bekerja sama dengan operator seluler untuk membuka isolasi daerahnya dari dunia luar. Industri seluler dapat mempercepat pembangunan daerah tertinggal karena beberapa alasan yang sangat fundamental:
Pertama, membangun infrastruktur teknologi seluler relatif jauh lebih murah dan cepat dibanding membangun dua infrastruktur penting lainnya, yaitu jalan raya dan pelabuhan (bandara). Dengan kelebihannya, yaitu jaringan tanpa kabel, teknologi seluler dapat melakukan penetrasi sampai ke pelosok-pelosok daerah yang tertinggal, sehingga dapat merangsang usaha kecil dan menengah yang ada di daerah-daerah terpencil. Selain itu juga, dapat mengangkat potensi kekayaan alam sehingga dapat menghasilkan kerajinan tangan yang unik dan berkualitas. Dengan adanya layanan komunikasi seluler ini proses promosi dari mulut ke mulut by phone lebih cepat dan yang penting yaitu biayanya murah.
Kedua, perluasan pemakaian teknologi seluler akan memudahkan masyarakat (investor) mengakses sebanyak-banyaknya potensi dari daerah tertinggal bersangkutan. Semisal salah satu daerah tertinggal di wilayah Papua yang berada di pedalaman, maka dengan fungsi-fungsi teknologi seluler yang bisa untuk mengambil gambar, tersambung di kabel internet maupun fungsi lain dari 3G atau bahkan 3,5G maka pemerintah daerah tertinggal bersangkutan dapat dengan mudah menginformasikan hal-hal yang diperlukan masyarakat (investor) untuk melakukan aktivitas bisnis di wilayah tersebut. Peranan layanan komunikasi ini sangat penting bagi investor agar lebih yakin lagi untuk menanamkan modalnya.
Ketiga, teknologi seluler mudah diperoleh dan mudah digunakan. Bahkan ada kecenderungan harga dari teknologi seluler selalu menurun. Ditambah lagi tarif murah yang ditawarkan operator seluler, menyebabkan warga daerah tertinggal mampu untuk menggunakannya. Mudah dan murahnya berkomunikasi dengan pihak luar merupakan awal yang baik untuk keluar dari ketertinggalannya. Ini bisa jadi key acces untuk membuka usahanya ke ruang lingkup yang lebih luas lagi.
PT Excelcomindo Pratama (XL) sebagai pemain besar industri seluler dan merupakan salah satu pioner dalam memasyarakatkan seluler, mempunyai peluang besar untuk ikut memajukan daerah tertinggal di negeri indah ini. Apalagi jangkauan XL yang saban waktu bertambah luas dan selalu menggunakan teknologi terbarukan. Pelosok-pelosok maupun pinggiran-pinggiran laut yang merupakan kantong-kantong dari daerah tertinggal di negeri ini akan dengan mudah dijangkau oleh XL. Dengan demikian percepatan pembangunan daerah tertinggal menemukan jalan keluarnya, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah berkembang dengan cepat dan menyusul ketertingalannya dari daerah lain yang lebih maju.

Akan tetapi tidak segampang itu, banyak ritangan yang harus dihadapi investor sebelum masuk ke suatu daerah khususnya daerah tertinggal. Berikut ini adalah analisa masalah-masalah yang dihadapi investor perusahaan tekomunikasi di Indonesia, yaitu:

1. Terkait masalah birokrasi yang rumit, ini akan menghambat kemudahan para investor untuk menanamkan modalnya di daerah itu jika birokrasi yang di terapkan pemerintah daerah begitu complicated. Ini tidak hanya akan mengancam investor yang bergerak dalam telekomunikasi saja, namun bisa juga investor yang bergerak dalam penanaman modal, migas, dan nonmigas. Jadi, pada hakekatnya kemudahan birokrasi akan membuka peluang besar bagi investor untuk menanamkan modalnya di daerah itu.

2. Dukungan pemerintah daerah kurang sehingga ketika terjadi masalah di lapangan yang berkaitan dengan keberlangsungan usaha investor di daerah tersebut hanya dilimpahkan ke si pemegang usaha, sehingga investor tidak mempunyai dukungan hukum dan kebijakan pemerintah daerah yang kuat. Ini akan mengakibatkan kerugian besar di pihak investor, dampak selanjutnya ini akan memicu out-nya para investor dari daerah itu dan akan menanamkan modalnya di daerah yang mana pemerintah daerahnya mendukung terhadap kegiatan usaha si penanam modal.

3. Ada penolakan dari sebagian masayarakat, sehingga menyebabkan investor enggan menanamkan modalnya karena kurangnya faktor dukungan dari masyarakat. Dengan alasan kurangnya dukungan, investor tidak akan jadi menanamkan modalnya di daerah itu karena dapat mengakibatkan terjadinya pengrusakan fasilitas usaha oleh sekelompok masayakat yang menolak untuk di kemudian harinya. Apalagi usaha berbasis komunikasi seluler, harus didukung dengan adanya kebutuhan masyarakat terhadap komunikasi itu. Kalau masyarakat tidak membutuhkan komunikasi seluler, maka usaha yang didirikan di daerah itu akan sia-sia.

4. Kurangnya fasilitas umum sehingga menghambat kelancaran usaha. Usaha dapat berjalan dengan baik apabila memiliki fasilitas umum yang baik. Fasilitas umum yang diperlukan untuk menyakinkan penanam modal itu apa? Pertama adalah kualitas dan kuantitas jalan yang menghubungkan daerah itu dengan daerah lain harus dalam kondisi bagus dan banyak. Kedua adalah sarana penyampaian imformasi dan komunikasi berjalan baik. Ketiga keberadaan layanan transportasi baik itu jalur darat, laut, dan komunikasi dengan pelayanan yang bervariasi sehingga mobilitas penduduk ke daerah itu besar, dan lain sebagainya.

5. Kondisi geografis yang kurang mendukung sehingga ini akan menjadi faktor penghambat investor untuk menanamkan modalnya di daerah itu. Pada hakekatnya, kondisi geografis ini bisa diakali jikalau pemerintah daerah punya komitmen untuk memajukan daerahnya dengan sungguh-sungguh, maka investor pun akan berdatangan untuk menanamkan modalnya di daerah itu.

Salah satu indikator utama untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi daerah adalah dari tingkat pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi adalah meningkatnya pendapatan per kapita riil yang berlangsung terus-menerus yang bersumber dari dalam daerah. Pertumbuhan ekonomi ini disokong oleh pertumbuhan investasi dari luar ke dalam daerah itu sehingga dapat dikatakan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pertumbuhan investasi yang masuk ke daerah itu. Khususnya investasi dalam bidang telekomunikasi seluler ini karena investasi dalam tekomunikasi dapat memicu investasi-investasi yang lain yang masuk ke daerah itu. Kenapa bisa begitu? Salah satu alasannya karena tersedinya fasilitas komunikasi apalagi komunikasi yang disediakan bebas waktu, tempat, dan hambatan dimana dapat dipenuhi oleh telekomunikasi seluler sehingga dapat memepermudah komunikasi antara investor dengan sumber daya yang diinginkan dari daerah itu. Komunikasi dengan seluler ini bisa menjembatani proses penanaman modal ke daerah itu dan juga akan mengembangkan usaha mikro masyarakat sehingga masyarakat dapat memperluas jaringan usaha mereka ke luar daerah. Artinya semakain pesat pertumbuhan usaha mikro dan menengah, maka pertumbuhan ekonomi daerah akan meningkat. Karena kita tahu bahwa pertumbuhan ekonomi suatu daerah ditandai dengan peningkatan pendapatan per kapita setiap pendududknya dalam kurun waktu tertentu.

Untuk salah satu kepentingan analisis ekonomi, banyak pihak menggunakan pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) riil sebagai indikator pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah. Meskipun demikian, sesungguhnya secara konseptual terdapat perbedaan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kendatipun pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya indikator yang mampu menangkap semua kinerja pembangunan ekonomi, namun demikian indikator ini telah dapat memberikan gambaran yang sangat bermanfaat untuk melihat geliat aktivitas perekonomian suatu daerah.

Hal yang lebih penting dari pertumbuhan ekonomi adalah mengidentifikasi sumber pertumbuhan baik dalam sisi penawaran atau sektoral maupun sisi permintaan. Dari sisi penawaran pertumbuhan tercermin dari kenaikan PDRB sektoral, sedangkan dari sisi permintaan dapat diketahui dari pertumbuhan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah maupun dari selisih bersih ekspor terhadap impor. Bagi pemerintah daerah bahwa dengan mengetahui sumber pertumbuhan maka dapat diambil kebijakan yang dapat mempercepat pertumbuhan atau memperlambat pertumbuhan sektor tertentu sesuai dengan target pembangunan ekonomi yang hendak dicapai. Kenaikan pertumbuhan yang terlalu tinggi pada sektor tertentu dapat berakibat pada timbulnya over supply apabila tidak dapat diserap oleh sektor yang lain. Oleh karena itu, kebijakan yang terpadu antara sektor-sektor diperlukan untuk mengantisipasi munculnya dampak yang lain seperti inflasi dan penurunan pendapatan bagi masyarakat. Namun hal tersebut dapat ditanggulangi apabila perkembangan pada suatu sektor tertentu dapat diekspor ke luar daerah atau luar negeri.

Untuk kepentingan analisis ekonomi daerah secara umum sektor ekonomi dibagi menjadi sektor basis dan non basis. Sektor basis adalah sektor yang dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan melalui ekspor keluar daerah, yang ditunjukkan oleh nilai LQ >1. Sementara sektor non basis adalah sektor yang lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah, yang tercermin dari nilai LQ <1. style=""> Kita ambil contoh saja Kabupaten Bima mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif selama kurun 2000-2005. Puncaknya terjadi pada tahun 2003 yang mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,53 % dimana ini merupakan andil dari investasi industri jasa telekomunikasi. Ketersedian industri telekomunikasi memacu secktor-sektor riil lainnya untuk berkembang. Walaupun pada kenyaataannya sektor riil yang memacu perkembangan ekonomi di daerah bima bukan sector telekomunikasi, namun tanpa adanya faktor penunjang untuk kelancaran suatu bisnis. Maka perkembangan bisnis yang lain pun akan mandek dan tidak akan berkembang secara pesat. Adapun trend pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bima dapat dilihat pada grafik 1 di bawah ini.


Selain itu juga, pertumbuhan industri telekomunikasi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dilihat dari data pertumbuhan rata-rata per sektor, maka sektor tersier mencapai 3,87% , sektor sekunder sebesar 4,45% dan sektor primer sebesar 3,70%. Pertumbuhan primer didorong oleh meningkatnya pertumbuhan usaha pertambangan atau penggalian dan pertanian. Tingginya pertumbuhan sektor sekunder disebabkan berkembangnya usaha listrik, gas dan air minuman dan usaha bangunan. Sedangkan sektor tersier didukung oleh peningkatan permintaan terhadap sektor pengangkutan dan komunikasi dan usaha perdagangan baik skala besar maupun eceran. Artinya ada peningkatan permintaan akan fasilitas telekomunikasi baik seluler maupun telepon rumah yang mana akan berdampak terhadap peningkatan sektor-sektor sekunder dan primer. Untuk itu, meningkatnya pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya peranan masing-masing sektor dalam pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), tetapi juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai peranan yang cukup besar dalam hal ini khususnya jasa layanan telekomunikasi sangat penting bagi pertumbuhan segala sektor di dalam kemajuan suatu daerah. Berikut ini grafik yang menunjukkan pertumbuhan masing-masing sector di kabupaten Bima.

Dari grafik bisa dilihat bahwa perkembangan atau pertumbuhan sektor telekomunikasi dan industri lebih cepat dibandingkan dengan sektor primer yaitu pertambangan, penggalian, dan pertanian. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan industri telekomunikasi akan memacu perkembangan industri lainnya khususnya yang berkaitan dengan industri kecil dan menengah. Karena berdasarkan survey, industri kecil dan menegah merupakan pengguna seluler terbesar dalam menjalankan roda usahanya. Kita ambil contoh seorang pengusaha kue. Ketika ia menjalankan usahanya, ia membutuhkan alat komunikasi yang fleksibel, mudah dibawa kemana-mana, dan biayanya murah untuk menerima order dan juga melakukan komfirmasi order. Jika menggunakan telepon rumah biasa, maka biaya komunikasi dapat dikatakan sudah tidak lagi efisien karena memakan biaya besar. Untuk itu, kebanyakan pengusaha kue, banyak menggunakan komunikasi seluler untuk memverifikasi order dan lain sebagainya karena itu tadi biayanya murah. Misalnya cukup dengan sms saja, kita sudah bisa melakukan komfirmasi.

Sekarang kita tanyakan pada diri kita sendiri di daerah-daerah, lebih banyak mana usaha swata dengan skala besar atau kecil dan menegah? Tentu saja usaha dengan skala kecil dan menegah. Ini merupakan prospek besar bagi pengembangan layanan komunikasi di daerah-daerah karena kita tahu bahwa di daerah-daerah usaha yang berkembang pesat adalah usaha kecil dan menengah. Jika fasilitas penunjang seperti layanan komunikasi suadah tidak ada, maka pertumbuhan ekonomi daerah yang mana sebagian besar diandalkan dari pertumbuhan usaha mikro dan menegah ini tidak akan mengalami pertumbuhan yang pesat.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa semakin luas penyediaan layanan komunikasi dan besarnya investasi di bidang telekomunikasi, akan meningkatkan pertumbuhan pendapatan penduduk dari menjalankan usahanya. Untuk itu bisa ditarik kesimpulan yang lebih umum lagi yaitu peningkatan investasi dalam bidang telekomunikasi sebanding dengan peningkatan invesatasi dalam sektor usaha lainnya sehingga pertumbuhan ekonomi daerah meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar